Minggu, 29 Juni 2014

Ciri Puasa Yang Diterima


Salam Kerahmatan,

Sabda Rasulullah SAW mengenai Hadith : || من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبك ||

Maksud Hadith : "Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan , dengan keyakinan dan penghisaban , Maka akan diampunkan dosanya yang telah lepas"

Demikian adalah maksud hadis secara zahir daripada matan[petikan] hadith di atas.Sebagaimana yang dapat difahami dari Hadith ini bahawa oranag yang berpuasa di bulan Ramadhan akan dihapuskan baginya dosa-doas yang telah dilakukan , dengan disyaratkan bahawa orang yang berpuasa itu ايمانا واحتسابا" " dalam melakukan ibadah puasa tersebut.Syarat penghapusan dosa bagi orang yang berpuasa adalah ايمانا واحتسابا" " sebagaimana Rasulullah SWT mensyaratkanya di dalam petikan Hadith di atas.
Makna kalimah ايمانا واحتسابا" " ialah :

ما رواه ابن حبان فى صحيحه والبيهقى عن سعيد الخدرى رضى الله عنه عن النبى صاى اللله عليه وسلم : "من صام رمضان وعرف حدوده وتحفظ مما ينبغى له أن يتحفظ منه كفر ما قبله "

Maksud hadith : Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan , dan mengetahui batas-batas puasa , dan memelihara apa yang sepatutnya dia pelihara[seperti dosa zahir dan batin ,dan perkara yang membatalkan puasa] dari puasa itu , maka akan dihapuskan dosa yang lepas.

Maka semestinya untuk memperolehi ايمانا واحتسابا" " adalah dengan mengetahui batas-batasan @ pantang larang puasa itu dan memelihara dia dari melakukan perkara yang merosakkan puasa dari sudut rohani dan jasmani puasa tersebut.Disokong lagi dengan sabda Nabi SAW :

ما رواه الاامام احمد باسناده صحيح :" الصيام جنة وحصن من النار"

Maksud Hadith : Puasa itu adalah perisai , dan memelihara dari Api Neraka.
Akhirnya , dengan menjaga dan memelihara keaslian puasa untuk memperolehi dua sifat puasa yang dihapuskan dosa iaitu ايمانا واحتسابا" " selayaknya mereka ini memeperolehi ketaqwaan dengan ibadah puasa itu.Inilah motif utama yang digariskan dalam Al-Quran dalam memfardukan ibadah puasa bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah SWT :

يأيها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون" "

Maksudnya : Wahai orang yang beriman difardukan ke atas kamu puasa sebagaimana difardukan kepada umat-umat terdahulu dari kamu mudah-mudahan kamu memperolehi ketaqwaaan[dengan puasa tersebut].
Wallahu 'Alam...

*Rujukan dan terjemahan dari kitab :Fatawa Al-Imam Doktor Abdul Halim Mahmud, Bahagian Ke-2 [Syeikul Azhar yang lepas].

Senin, 09 Juni 2014

Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa


Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa
Tahun pelajaran 2014/2015 ini sudah didepan mata, untuk beberapa sekolah yang menjadi pilot project tahun pelajaran ini menjadi tonggak penggunaan kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013. 
Ganti menteri ganti juga kebijakan dan ganti kurikulum kalimat itu menjadi hal yang sudah menjadi kelumrahan karena seperti itu adanya. Namun pastinya kita sebagai pendidik (baik di lembaga formal maupun nonformal) tetaplah seorang pendidik atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan GURU (yang seharusnya digugu dan ditiru baik dari sikap, ucapan, dan penampilan kita). Karena kitalah yang menentukan seperti apa masa depan para murid dan masa depan bangsa ini. Guru tetap perlu memiliki pemikiran yang jernih, hati yang tulus mendidik, serta kritis bahwa pendidikan adalah urusan publik, sehingga pun perlu ambil bagian secara aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Nah, kali ini saya akan suguhkan kepada Anda semua bagaimana kita bisa tetap menjadi guru yang menyenangkan dan dicintai oleh murid – murid kita di kelas. Berikut 10 Cara Menjadi Guru yang Dirindu oleh para siswanya: 
1. Jangan Pernah Menoleransi Keributan Sejak Awal
Para guru seringkali membuat kesalahan dengan memulai tahun ajaran baru dengan membuat perencanaan kedisiplinan yang longgar. Para siswa akan dengan mudah memahami situasi dalam setiap kelas dan menyadari bahwa mereka dapat berbuat sesuka hati mereka dengan aturan minimal kedisiplinan yang telah Anda tetapkan. Sekali Anda memulai membiarkan adanya keributan atau kekacauan di dalam kelas, dan Anda memberikan toleransi atasnya, entah dengan cara mendiamkan mereka, Anda akan menemukan kesulitan di kemudian hari untuk mengontrolnya. Bagaimanapun juga, menjaga kualitas dan kedisiplinan di kelas selama satu tahun pelajaran tidak akan pernah mudah, namun akan lebih sulit membuat Anda menjadi lebih tegas dan disiplin bila Anda sudah mulai memberikan banyak toleransi pada awal tahun pelajaran.
2. Bersikap Adil
Para siswa biasanya memiliki kesan tersendiri tentang apa yang dianggap adil dan tidak adil. Sebagai guru, Anda harus bersikap adil dan fair pada para siswa bila Anda ingin dihormati. Jika Anda tidak memperlakukan setiap siswa secara sama, Anda akan dianggap telah berlaku tidak adil, menganakemaskan, pilih kasih, sedangkan yang lain merasa dianaktirikan. Jika kesan ini yang muncul, para siswa tidak akan konsisten dan ketat mengikuti aturan-aturan yang telah Anda tetapkan. Siapapun siswa itu, tidak peduli dia itu anak yang berprestasi di kelas atau bukan, bila ia telah melanggar kesepakatan bersama kelas, anak itu tetap harus memperoleh sanksi atas perilakunya yang indisipliner itu.
3. Fokus pada Materi
Ketika kelas Anda mengalami keributan atau kekacauan, Anda harus segera mengatasinya secara langsung. Usahakan agar dalam kelas Anda terdapat sedikit interupsi yang memotong jalannya pembelajaran. Misalnya, bila ada beberapa siswa yang saling omong sendiri, dan Anda sedang mengadakan diskusi dalam kelas, tanyakan pada salah satu dari mereka pertanyaan yang terkait dengan materi diskusi agar pembicaraan mereka kembali ke jalur diskusi kelas. Jika Anda menghentikan pembelajaran di kelas, dan mulai mengurusi para siswa yang saling berbicara itu secara khusus, maka Anda telah mencuri waktu penting dari para siswa yang sungguh-sungguh ingin belajar, sebab bagi mereka, waktu belajar di kelas yang terbatas itu merupakan waktu yang sangat berharga.
4. Hindari Keributan dengan Siswa
Ketika di kelas ada konfrontasi, antara Anda dan siswa, di situ pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Kadang kita ingin menunjukkan pada seluruh kelas bahwa seseorang di kelas ini telah melakukan tindakan yang salah, dan kita ingin agar yang lain belajar dari pengalaman seseorang ini. Tentu, sebagai guru, Anda berhak untuk menjaga disiplin dan keteraturan di dalam kelas. Bagaimanapun juga, akan lebih baik bila Anda membereskan persoalan indisipliner siswa tersebut secara privat, daripada kemudian membuat siswa tersebut “kehilangan muka” di hadapan teman-temannya. 
Anda perlu mengajak seluruh siswa tetap disiplin dan konsisten dengan aturan yang telah Anda tetapkan. Dengan menegur secara keras dan langsung, mungkin siswa lain akan menangkap maksud kedisiplinan Anda, namun Anda akan kehilangan kesempatan untuk merebut hati setiap anak di kelas. Anda bisa bersikap lebih bijak dengan meminta anak tersebut menemui Anda di luar jam pelajaran, dan tetap mengajak siswa tersebut konsentrasi pada pelajaran yang sedang dibahas.
5. Kelola Kelas dengan Sedikit Humor
Kadang kala humor diperlukan untuk mengajak para siswa kembali ke jalur pembelajaran di kelas. Namun untuk ini, Anda perlu belajar membedakan antara humor yang tepat sasaran dan mendidik, dan humor yang kasar. Kadangkala guru mencampuradukkan keduanya. Sementara humor yang sehat dan baik bisa membuat suasana kelas mencair dan mereka bisa dengan mudah diajak kembali ke pokok bahasan, sarkasme atau kata-kata kasar yang keluar akan merusak hubungan Anda dengan siswa. Gunakan kecerdasan emosional Anda untuk menilai apakah humor yang Anda luncurkan itu sebagai sesuatu yang memang lucu atau mengejek. Kadang Anda perlu memikirkan bahwa apa yang oleh orang lain mungkin dianggap lucu, sedangkan bagi yang lain mungkin dianggap sebagai penghinaan. Membuat humor yang tepat memang tidak mudah.Namun Anda akan terbiasa bila belajar dari pengalaman Anda.
6. Beri Tuntutan yang Tinggi pada Siswa
Anda mesti memberikan tuntutan yang tinggi pada siswa, bahwa mereka akan bersikap baik dan disiplin, bukan malah melanggar disiplin. Tunjukkan keyakinan Anda ini melalui cara bicara Anda pada siswa. Ketika Anda memulai pelajaran, jelaskan pada mereka apa yang Anda tuntutkan dari mereka dalam pelajaran kali ini. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “selama pembahasan di dalam kelas, saya mengharapkan kalian untuk pertama-tama mengangkat tangan, saya persilakan bicara, dan baru kalian berbicara. Saya juga mengharapkan kalian menghargai pendapat teman-teman yang lain dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh teman yang lain.”
7. Siapkan Bonus Materi
Adanya waktu kosong merupakan sesuatu yang harus dihindari oleh para guru. Dengan membiarkan para siswa memiliki waktu luang untuk berbicara sendiri setiap hari, Anda telah memberikan kesan pada para siswa tentang penguasaan materi akademik dan subjek yang Anda ampu. Untuk menghindari ini, buatlah desain pembelajaran tambahan sebagai bonus (overplan). Tulislah kegiatan tambahan dalam lesson plan hanya untuk berjaga-jaga pada saat materi utama yang Anda harus jelaskan pada siswa sudah selesai dalam waktu singkat. Ketika Anda memiliki banyak materi yang perlu diajarkan, Anda tidak akan pernah kelebihan waktu dan Anda terhindar dari adanya waktu luang siswa. Anda juga bisa membuat semacam latihan kecil untuk waktu luang yang kemungkinan tersisa saat Anda mengajar.
8. Tetaplah Konsisten
Salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan sebagai guru adalah tidak menerapkan aturan yang telah disepakati bersama secara konsisten. Misalnya, suatu hari Anda membiarkan perilaku indisipliner yang dilakukan siswa, di hari lain, Anda menegur dan memberi sanksi pada siswa saat melakukan pelanggaran kecil. Jika ini terjadi, Anda tidak akan dihormati lagi oleh para siswa. Siswa Anda memiliki hak untuk mengharapkan Anda bersikap konsisten setiap hari. Tidak boleh ada tempat untuk sikap angin-anginan, tergantung pada mood dalam menegakkan disiplin siswa. Sekali Anda kehilangan rasa hormat dari para siswa, mereka akan mengabaikan Anda dan tidak akan membuat Anda nyaman mengajar.
9. Buatlah Aturan yang dapat Dimengerti
Anda perlu menyeleksi aturan-aturan yang Anda terapkan di kelas. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengikuti secara konsisten banyak aturan. Anda juga harus membuat mereka mengerti dan memahami peraturan secara jelas. Siswa perlu memahami apa saja aturannya dan apa saja yang tidak dapat diterima dalam aturan tersebut. Selain itu, Anda juga harus membuat siswa memahami dan mengerti sanksi-sanksi yang akan diterapkan bila siswa melanggar aturan-aturan tersebut.
10. Selalu Mulai Hari dengan Semangat Baru
Anda harus memiliki semangat baru setiap kali mengajar. Memiliki semangat baru tidak berarti bahwa Anda mengabaikan pelanggaran-pelanggaran sebelumnya. Pelanggaran tetaplah pelanggaran yang harus diberi sanksi. Namun demikian, Anda tidak perlu setiap kali menegaskan apa yang Anda harapkan dalam diri siswa terutama terkait dengan kedisiplinan setiap kali Anda mengajar. Anda juga perlu menghindari pemikiran yang stereotip. Misalnya, Anton sudah seminggu ini setiap hari selalu datang terlambat. Ini tidak berarti bahwa hari ini dia akan datang terlambat. Sikap baru ini akan membuat Anton tidak merasa terancam dan Anda tidak akan merasa bahwa kelas Anda pasti akan terganggu lagi dengan keterlambatannya. Selalu memiliki sikap positif dan mengajak siswa juga berpikir positif akan membantu Anda membangun suasana belajar di kelas yang positif. (diambil dari berbagai sumber)
Nah setelah mengetahui bagaimana caranya mengajar agar menyenangkan pastinya kita langsung praktikkan dalam pekerjaan kita. Eits, tunggu dulu kalau sekedar teori mungkin akan cepat lupa buat Anda para pendidik yang mau mengetahui lebih jauh bagaimana pengaplikasiannya dalam proses KBM kita di kelas ikuti yuks program Training of Trainer – How To Be A Great Teacher bersama kami AHa Self Inspiration Center akan mengajak Anda menjadi guru yang menyenangkan, dicrindukan para murid, dan menjadi teladan bagi sesama rekan guru...

Guru Hebat!

Guru adalah profesi penghasil semua profesi setelahnya. Guru adalah cikal bakal semua profesi. Guru adalah awalan pejuang penghasil pejuang selanjutnya. Guru adalah titik awal pergerakan dan perkembangan. Adakah manusia yang tidak memiliki guru?

Saat ini, sebagai Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar saya belajar untuk menjadi guru  selama satu tahun. Pekerjaan yang sebelumnya saya hindari, karena menurut saya saat itu, guru adalah pekerjaan yang membosankan.

Jalan enam bulan penugasan, pandangan itu sedikit demi sedikit berubah. Pengalaman kerja kantoran sebelumnya, membuat saya menyadari bahwa guru adalah pekerjaan penuh tantangan sepanjang jaman. Jika di kantor, pekerjaan akan selesai saat jam pulang kantor, maka hal ini berbeda sekali saat menjadi guru. Sebagai guru, kami bekerja 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, sepanjang waktu. Bukan hanya saat mengajar, kami perlu banyak waktu untuk memikirkan media dan metode pengajaran yang tepat dan menyenangkan.

Perlu waktu untuk berbicara dengan banyak orang menyelesaikan berbagai permasalahan murid dan sekolah, perlu waktu ekstra untuk memikirkan formula agar anak yang suka bolos bisa kembali bersemangat sekolah, memikirkan anak yang lambat agar lebih semangat belajar, dan tentu saja menjadi panutan, menyisipkan setiap karakter bangsa dalam setiap sendi kehidupan.

Guru harus semaksimal mungkin menjadi manusia baik, karena setiap guru adalah panutan, karena guru itu digugu dan ditiru (didengarkan dan dicontoh). Jika guru ingin mengajarkan murid untuk membuang sampah pada tempatnya, maka guru harus memiliki kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Jika guru melarang siswanya berkelahi, tidak  bijaksana jika gurunya sendiri suka bertengkar dan main kekerasan. Jika guru mengajarkan untuk menyayangi sesama manusia, pelajaran tersebut tidak akan sampai apabila gurunya sendiri suka menggunjing dan membicarakan kejelekan orang lain.

Lebih dari apapun, sosok guru dapat tampil sebagai sosok pahlawan bagi murid. Guru dapat menjadi sosok kepercayaan murid dan orangtua. Sosok dengan kharisma bijaksana dan terjamin kebaikannya. Berton tanggung jawab ada di pundak para guru, yang sebanding dengan aliran pahala dan kebaikan bagi seorang guru baik.

Disini, saya melihat langsung bagaimana ketulusan dan segala hal baik itu menular. Ada banyak sosok guru inspirasional, yang dengan tulus dan tidak melihat ‘saya dapat apa’ dari setiap pekerjaan sulit yang dilakukannya. Dari mereka, saya belajar banyak. Hal-hal baik itu saya curi sebanyak mungkin, saya pelajari dan saya resapi.                                                                                                                                                                                                                                    

Jadi Guru Hebat Penuh Manfaat

Kagum dengan kisah perjuangan sahabatku yang merantau ke luar pulau dengan modal keyakinan untuk merubah nasib. Sudah kurang lebih 3-4 bulanan beliau berada di sana hanya lewat perbincangan di jaringan sosial aku bisa tahu keadaannya dan keluarga lah yang bisa terus kami pantau. Sesekali beliau bercerita betapa harus menjadi orang yang kuat hidup di negeri orang namun sesekali pun beliau bercerita tentang berbagai aktivitasnya di sekolah sebagai seorang guru dengan berbagai macam karakter anak dan orangtua.
Kaget saat tadi pagi kulihat statusnya yang mengatakan “ bukan hendak putus asa dengan rahmat Allah.cuma sedang putus asa dengan diri sendiri.aaaah.....useless me. useless teacher ”. Ternyata ada sedikit kecekalaan kecil yang menimpa salah satu muridnya. Mmmm... pengalaman hampir 12 tahun menjadi seorang guru dengan berbagai macam karakter siswa pastinya membuat saya ingin rasanya berbagi pengalaman, bukan ingin menggurui karena saya juga belum bisa menjadi guru yang baik tapi mudah-mudahan bisa jadi lahan sharing pengalaman yang pernah saya alami.
Setiap guru pasti ingin murid-muridnya nurut sama beliau, melakukan apa yang disuruh dengan sigap, tidak banyak bercanda saat di kelas, dan bersikap manis serta sopan kepada guru. Namun namanya anak-anak ya tetap anak-anak penuh perjuangan untuk melakukan itu bukan dengan mantra simsalabim hehe.. nah berikut beberapa tips yang mudah – mudahan bisa bermanfaat, bagaimana seorang guru benar-benar ditiru dan digugu oleh para muridnya.
1. Saat mengajar usahakan sebisa mungkin hindari terlalu banyak metode ceramah, karena itu akan membuat siswa lebih cepat bosan bahkan mengantuk (apalagi kalau Anda sebagai guru SD)
2. Berikan banyak contoh kepada para siswa tentang apa yang ingin siswa Anda lakukan. Contohnya jika Anda berharap Ia akan hormat kepada Anda maka awali Anda harus menghormatinya sebagai seorang murid dengan menjaga harga diri murid. Misalkan saat ada murid yang tertidur di kelas jangan langsung Anda membangunkan dan memarahinya karena itu akan membuat siswa akan ditertawakan oleh semua temannya dan pastinya membuat siswa Anda sakit hati. Tapi tanyalah di sela – sela waktu yang tepat
3. Jika Anda marah atau kecewa kepada siswa, biaralah dari hati ke hati bukan dengan berteriak di kelas dan didengar oleh seluruh teman – temannya.
4. Tebarkanlah senyum kepada mereka dengan tulus, sekalipun kepada siswa yang ‘bermasalah’
5. Berikan motivasi untuk bisa menjadi yang terbaik bukan malah menyindirnya dengan kata – kata yang pastinya bisa membuatnya mundur
6. Selingi proses mengajar kita dengan humoran yang tepat waktu dan tempatnya
7. Penampilan dan berkatalah yang terbaik layaknya seorang guru agar siswa kita juga berpenampilan dan bertutur kata terbaik selayaknya seorang murid
8. Jadilah sahabat bagi siswa kita di saat selingan waktu yang tepat
9. Bersabar dengan segala proses yang sedang dijalani oleh siswa kita untuk memiliki akhlaq yang baik karena tidak ada perubahan yang instan dalam melakukan perbaikan karakter
10. Berdo’alah agar siswa kita diberikan perubahan akhlaq yang baik dan kemudahan dalam menerima ilmu di setiap waktu kita.
Nah, itu dia beberapa tips bagaimana bisa menjadi guru hebat untuk siswa kita... Ingin mengetahui lebih lengkap lagi artikel seputar pendidikan yang lainnya? Ikuti artikel – artikel lainnya di www.ideanakhebat.com

Menjadi Guru yang Hebat


“Untuk mengaktifkan orang lain, untuk membuat mereka antusias, anda sendiri harus lebih dahulu antusias”
DAVID J. SCHWARTZ, DALAM THE MAGIC OF THINKING BIG

Hari itu saya hampir putus asa ketika mengajar IPA di kelas VB sekolah ku, padahal sebelumnya saya nggak pernah sekalipun patah semangat. Saya tidak pernah putus asa dalam segala hal. Bagaimana tidak, ketika senyum sudah merekah indah, semangat membara, menggebu-gebu sebelum memulai pembelajaran, siswa justru membalas dengan ekspresi datar, penuh kemalasan, tidak terlihat antusias sama sekali, dingin.

Saya membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan kabar, masih dengan suara lantang dan bersemangat. Namun, siswa menjawab lirih sekali hampir tidak terdengar. Aku bingung dan mulai memutar otak untuk mencari solusi, mengembalikan semangat mereka. Saya mengajak bernyanyi dan bermain, Alhamdulillah sedikit berhasil mengembalikan semangat yang hampir hilang.

Setelah semangat itu mulai terlihat, walau masih redup, barulah kemudian saya memulai pembelajaran IPA, tentang Pelapukan Batuan dan Jenis-jenis Tanah. Selama pembelajaran berlangsung, semua kembali normal bahkan antusiasme muncul di akhir sesi pembelajaran karena saya mengajak semua siswa untuk melakukan diskusi. Saya membawa tiga jenis tanah yang berbeda, mereka diminta untuk mengidentifikasi jenis tanah tersebut.

Pembelajaran yang di awal tidak bersemangat ternyata menjadi mengasikkan karena semangat dan antusiasme dari guru, terbukti bahwa semangat itu menular. Hari ini indikator dan tujuan pembelajaran tetap tercapai.

Pembaca sekalian, para guru, pengusaha, karyawan, menager, atau apapun itu, ingatlah kaidah penting dalam kehidupan ini, bahwa untuk mengaktifkan seseorang, untuk membuat lawan bicara kita antusias, maka anda sendirilah yang harus lebih dahulu terlihat aktif dan antusias. Jangan pernah berharap lawan bicara anda antusias jika anda sendiri berwajah masam, tidak bersemangat, berjabat tangan seadanya, dan lain-lain. Mustahil.

Antusiasme menjadi sangat penting, terlebih bagi seorang guru. Sering kita dapati atau mungkin kita sendiri mengalami, mengantuk saat guru menjelaskan, membosankan, tidak menarik, sehingga kita (sewaktu menjadi siswa dahulu) lebih memilih untuk mengobrol dengan teman sebangku, tidur, bermalas-malasan, atau melamun, tidak memperhatikan.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Padahal, jika kita perhatikan dan jujur, pelajaran di sekolah itu menarik. Semuanya, tanpa terkecuali. Hanya saja, karena dibawakan oleh seorang guru yang mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban, mengajar seadanya, tidak ada semangat dan antusiasme, maka pembelajaran yang kita harapkan akan luar biasa menjadi hambar tidak berasa apa-apa. Siswa menjadi korban.

Pembaca sekalian, terutama guru, ingatlah satu hal, guru yang hebat adalah juga aktor yang hebat. Seberapapun beratnya masalah yang sedang dihadapi, dalam mengajar semua itu harus tidak terlihat. Sesedih apapun yang kita rasakan, di depan siswa semangat dan antusiasme harus dimunculkan.

Semangat dan antusiasme adalah kunci keberhasilan dalam membangkitkan minat belajar siswa, percaya deh. Selamat mencoba.

Empati itu Penting, Bijaksana itu Harus! (Menjadi Guru Menyenangkan )


            Kali ini menjadi guru menyenangkan yang paling penting memiliki empati, dan harus bijaksana. Berikut akan kita ulas mengenai dua hal tersebut.
            Empati mempunyai pengertia yang hampir mirip dengan simpati. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati betul dalam memahaminya. Menurut Bennet, empati adalah partisipasi emosional dan intelektual secara imajinatif pada pengalaman orang lain.
            Apabila kita perhatikan dengan seksama, empati berbeda dengan simpati. Empati menekankan pada partisipasi secara emosional dan intelektual pada pengalaman orang lain, sedangkan simpati menekankan pada penempatan diri secara imajinatif pada posisi orang lain.
            Empati dapat diartikan bagaimana kita membeyangkan  pikiran atau perasaan orang lain menurut persepsi orang yang bersangkutan. Sedangkan simpati adalah kita menempatkan diri kita seperti orang lain dengan menggunakan persepsi kita. Dalam empati kita membayangkan perasaan atau pikiran orang lain, tetapi dalam simpati kita membayangkan apabila kita menjadi orang lain.
            Guru empati dapat membayangkan pikiran dan perasaan siswa menurut persepsi mereka, bukan menurut persepsi guru. Misalnya, dalam proses pembelajaran, seorang guru empati merancang dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan alam dan pikiran dan perasaan siswa, bukan sesuai dengan alam pikir dirinya. Hal ini tercermin dalam bahasa yang digunakan dan cara memperlakukan siswa.
            Guru empati berbeda dengan guru biasa dalam memperlakukan siswa-siswinya.
            Perhatikan dua contoh perbedaan yang mencolok antara guru empati dan guru tidak empati dalam menghadapi siswa.

Contoh 1
Cara Guru Tidak Empati dalam menyelesaikan persoalan siswa yang terlambat masuk sekolah.
Guru     : ”Mengapa kamu datang terlambat?”
Siswa   : ”Saya terlambat bangun, Bu.”
Guru     : “Ah, alasan kamu! Tidakkah kamu tahu kalau sekolah dimulai pukul 07.00?”
Siswa   : ”Saya tahu, Bu. Tapi kali ini saya benar-benar terlambat bangun. Saya menyesal
   datang terlambat.”
Guru     : ”Ya, sudah. Besok tidak boleh terlambat lagi. Awas kalau terlambat lagi!”

            Coba anda amati kalimta-kalimat yang disampaikan sang guru terhadap siswa dalam ilustrasi tersebut. Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata yang menyudutkan, menyalahkan, dan mengundang rasa tidak nyaman. Bahkan, di dalamnya terdapat kalimat yang mengancam siswa.

Contoh 2
Cara Guru Empati dalam menyelesaikan persoalan siswa yang terlambat masuk sekolah.
Guru     : ”Mengapa kamu datang terlambat, Nak?”
Siswa   : ”Saya terlambat bangun, Bu.”
Guru     : “Kamu tidur terlampau larut tadi malam?”
Siswa   : ”Betul, Bu. Saya nonton pertandingan sepak bola.”
Guru     : ”Kamu sangat menyukai sepak bola?”
Siswa   : ”Betul, Bu. Saya pecinta sepak bola.”
Guru     : ”Kamu mencintai sepak bola?”
Siswa   : ”Ya, Bu.”
Guru     : ”Kamu tidak mau kehilangan kesempatan nonton sepak bola?”
Siswa   : Betul, Bu.”
Guru     : ”Kamu juga sebetulnya tidak mau terlambat sekolah?”
Siswa   : ”Betul, Bu.”
Guru     : ”Kamu dapat mengatur waktumu agar kecintaanmu terhadap sepak bola tidak
   mengganggu sekolahmu?”
Siswa   : ”Bisa, Bu. Lain kali saya tidak akan terlambat ke sekolah, meskipun habis
    nonton sepak bola.”
Guru     : ”Kamu merasa itu pilihan yang terbaik untukmu?”
Siswa   : ”Ya, Bu.”
(Guru mengangguk, lalu mempersilakan siswa masuk kelas).

            Dari dialog tersebut, tampak dengan jelas perbedaan sikap guru empati dengan guru tidak empati. Contoh kasus 1 menggambarkan sikap guru tidak empati. Siswa merasa tidak nyaman dngan sikap guru tersebut. Ia sebetulnya sudah tahu bahwa dirinya tidak mau terlambat ke sekolah, dan ia menyesal. Akan tetapi, pertanyaan dan ancaman guru semakin membuat dirinya merasa bersalah yang mendalam. Sikap guru seperti itu dapat mengundang siswa tidak hormat pada guru, bahkan dapat menimbulkan rasa marah da dendam siswa kepada guru.
            Sebaliknya, pada contoh kaus 2, guru memesisikan diri pada persepsi dan perasaan siswa yang terlambat sehingga akhirnya siswa menyadari kekeliruannya dengan penuh kesadaran. Bahkan, ia menemukan solusinya tanpa harus merasa ditekan atau diancam oleh guru. Kecintaannya pada sepak bola tidak dicela oleh guru. Akan tetapi, pada kasus pertama, guru sama sekali tidak menghargai kesukaan siswa pada sepak bola.
            Sebagai manusia, para siswa dapat membedakan guru empati dan guru tidak empati. Guru empati sangat menyenangkan sehingga bisa dijadikan seaa orang tua dan sahabat. Guru empati aman untuk dijadikan sebagai tempat curhat. Wajarlah, apabila guru empati disukai dan disayangi para siswanya.
Di tangan guru empati, para siswa tunduk dan patuh serta terbu. Oleh karena itu, guru empati memiliki kekuatan psikologis yang luar biasa.
            Dalam kehidupan sehari-hari, ada sementara guru yang berpandangan bahwa sikap empati membuat guru tidak dihargai siswa. Pendapat ini tentu saja kurang berdasar. Yang menyebabkan guru tidak dihargai siswa bukan empatinya, melainkan sikapnya yang sering mencela, memaki, dan tidak menghargai perasaan serta pikiran siswa alias guru otoriter atau guru yang tidak memegang nilai-nilai dalam menghadapi siswa (tidak proaktif).
            Bagi guru pada era globalisasi seperti sekarang ini, sikap dan perlakuan empati kepada siswa merupakan tuntutan mutlak untuk mencapai hubungan yang harmonis dan edukatif dengan siswa. Tanpa sikap ini, pola komunikasi dan hubungan antara siswa dan guru dalam pendidikan akan terasa dingin dan memiliki jarak psikologis, bahkan cenderung menegangkan. Akibatnya, proses pendidikan tidak mencapai hasil yang optimal.
            Nah, para guru hebat dimanapun anda berada, bagaimana?Sudahkah anda bersikap empati kepada siswa-siswi anda?

            Ternyata, memiliki empati saja tidak cukup. Untuk menjadi guru yang menyenangkan satu hal lagi yang harus dimiliki adalah sikap Bijaksana.
            Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta, arti kata bijaksana adalah menggunakan akan pikiran dan pengalamannya. Ini berarti bahwa orang bijaksana adalah orang yang senantiasa menggunakan akal dan pikirannya dalam menghadapi atau memutuskan persoalan. Orang bijaksana tidak emosional dalam menghadapi seuatu. Ia pun tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Setiap persoalan dihadapinya dengan akal sehat. Setiap keputusan dipertimbangkan masak-masak didasarkan pada ilmu pengetahuan yang luas.
            Seorang guru dikatakan bijaksana apabila dalam menghadapi setiap persoalan senantiasa mempertimbangkan dengan akal sehat dan mendasarkannya pada ilmu pengetahuan. Ia tidak reaktif dan emosional. Misalnya, apabila ia menghadapi siswa yang melakukan kesalahan, ia tidak dengan serta-merta menyalahkan, mencela, memaki, dan menghukum siswa. Dengan tenang dan penuh kesabaran, ia mengumpulkan berbagai bukti secara objektif. Setelah bukti tersebut ditemuka, ia mempertimbangkan kemanfaatan, baik bagi siswa yang melakukan kesalahan tersebut maupun bagi kebaikan umum.
            Guru bijaksana merancang dan melaksanakan pembelajaran seuai dengan kemampuan dan keadaan siswa-siswinya. Ia tidak memaksakan kehendaknya sendiri pada anak-anak. Ia tidak berlebihan dalam memberikan tugas, tapi disesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan siswa.
            Secara umum, para siswa menyukai guru yang bijaksana. Mengapa demikian? Sebab, dari guru bijaksana mereka mendapatkan pelajaran untuk kehidupannya. Mereka merasa diperlakukan secara m,anusiawi, tidak semena-mena. Berbeda halnya degan guru yang tidak bijaksana. Guru tidak bijaksana memperlakukan siswa semaunya, menurut perasaannya. Jika tidak menyukai siswa tertentu, guru tidak bijaksana akan meindasanya, terutama secara psikologis.
            Guru tidak bijaksana kan terjerumus ke dalam perbuatan merusakkan mentalitas siswa tanpa disadari. Ia akan memperlakukan siswa seperti memperlakukan orang dewasa lain yang tidak disukai. Bahkan ia bisa lupa bahwa tugas dirinya adalah memperbaiki siswa bukan merusakkannya.
            Ada yang berpendapat bahwa bijaksana berarti melanggar hukum. Pendapat ini tentu saja tidak dapat dibenarkan. Bijaksana bukan melanggar hukum. Justru bijaksana berarti melaksanakan hukuk sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.
            Wahai para guru, sudahkah anda bersikap dan bertindak bijaksana terhadap siswa-siswi anda?
            Menjadi guru menyenangkan tak cukup hanya memiliki empati saja, tetapi juga harus punya sikap bijaksana. Anda sudah SIAP? HARUS!

6 Ciri Guru Yang Berjaya



Di bawah ini adalah artikel yang saya perolehi secara online tentang 6 ciri guru yang berjaya. Pada pandangan saya, ciri-ciri yang sama perlu ada pada seorang guru pancaragam yang berkesan. Sangat baik sebagai panduan dan renungan semua pendidik bagi meningkatkan profesionalisme.
Adakah anda mempunyai ke enam-enam ciri ini?

The most successful teachers share some common characteristics. Here are the top six keys to being a successful teacher. Every teacher can benefit from focusing on these important qualities. Success in teaching, as in most areas of life, depends almost entirely on your attitude and your approach.

1. Sense of Humor
A sense of humor can help you become a successful teacher. Your sense of humor can relieve tense classroom situations before they become disruptions. A sense of humor will also make class more enjoyable for your students and possibly make students look forward to attending and paying attention. Most importantly, a sense of humor will allow you to see the joy in life and make you a happier person as you progress through this sometimes stressful career.

2. A Positive Attitutude
A positive attitude is a great asset in life. You will be thrown many curve balls in life and especially in the teaching profession. A positive attitude will help you cope with these in the best way. For example, you may find out the first day of school that you are teaching Algebra 2 instead of Algebra 1. This would not be an ideal situation, but a teacher with the right attitude would try to focus on getting through the first day without negatively impacting the students.

3. High Expectations
An effective teacher must have high expectations. You should strive to raise the bar for your students. If you expect less effort you will receive less effort. You should work on an attitude that says that you know students can achieve to your level of expectations, thereby giving them a sense of confidence too. This is not to say that you should create unrealistic expectations. However, your expectations will be one of the key factors in helping students learn and achieve.

4. Consistency
In order to create a positive learning environment your students should know what to expect from you each day. You need to be consistent. This will create a safe learning environment for the students and they will be more likely to succeed. It is amazing that students can adapt to teachers throughout the day that range from strict to easy. However, they will dislike an environment in which the rules are constantly changing.

5. Fairness
Many people confuse fairness and consistency. A consistent teacher is the same person from day to day. A fair teacher treats students equally in the same situation. For example, students complain of unfairness when teachers treat one gender or group of students differently. It would be terribly unfair to go easier on the football players in a class than on the cheerleaders. Students pick up on this so quickly, so be careful of being labelled unfair.

6. Flexibility
One of the tenets of teaching should be that everything is in a constant state of change. Interruptions and disruptions are the norm and very few days are ‘typical’. Therefore, a flexible attitude is important not only for your stress level but also for your students who expect you to be in charge and take control of any situation.

(Artikel ini boleh diperolehi dari alamat berikut:http://712educators.about.com/od/teachingstrategies/tp/sixkeys.htm)

Selasa, 27 Mei 2014

Kata-Kata Bijak Memaknai Kegagalan

Sobat, kali saya akan menulis kata-kata bijak memaknai kegagalan bisa membangkitkan semangat bagi yang membacanya. Kata-kata bijak ini bertema “memaknai kegagalan”. Bagaimana anda memaknai kegagalan, bagaimana anda bisa bereaksi terhadap kegagalan., dan sebagainya.
 Kata-kata bijak ini saya ambil dari berbagai sumber. Selamat menikmati. memaknai kegagalan
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. – Thomas Alva Edison. Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. – Confusius. Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi Anda rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya – Lance Armstrong, Mantan Atlet Balap Sepeda AS. Kegagalan tidak pernah dimaknai sebagai kegagalan sampai anda menyerah Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih keberhasilan – John F. Kennedy Kegagalan dapat di bagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tetapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tetapi tidak pernah berpikir – W.A Nance. Hanya orang-orang sukses yang tidak pernah merasa kalah, karena mereka selalu mencoba dan berusaha agar kegagalan sebelumnya tidak terulang kembali. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya, tanpa kehilangan semangat – Winston Chunchill Tak ada rahasia untuk menggapai sukses, sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan – General Colin Powell Orang-orang yang gagal di bagi menjadi dua, yaitu mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan padahal tak pernah memikirkannya – John Charles Salak. Hidup bukanlah tentang meratapi dan menunggu hujan badai berlalu, tapi tentang bagaimana kita menikmati dan belajar menari dalam hujan. Kegagalan adalah sesuatu yang dapat kita hindari dengan : tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa – Denis Waitley Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdik – Henry Ford Banyak orang tidak pernah gagal karena tidak pernah mencoba – Norman Macewan Percayalah semua masalah dan rintangan yang kita hadapi bukanlah untuk melemahkan kita. Justru ini akan menjadikan kita lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih sabar dan lebih beriman. Kegagalan adalah peluang untuk hal yang lebih baik. Kegagalan adalah batu loncatan untuk pengalaman yang berharga. Suatu hari nanti Anda akan bersyukur untuk beberapa kegagalan yang anda alami. Percayalah, ketika satu pintu tertutup untuk anda, sebenarnya pintu yang lain selalu terbuka.
Nah, itulah kata-kata bijak memaknai kegagalan. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang yang berpikir gagal. Kegagalan bukanlah suatu kesalahan, tetapi hanya lah proses untuk mempersiapkan diri untuk kesuksesan yang lebih besar.

Makna Sebuah Kegagalan


Tidak ada manusia yang steril dari masalah. Selama hayat masih dikandung badan, problem hidup akan selalu hadir sebagai pelengkap hidup itu sendiri. Bergantung dari arah mana kita memandang, problema hidup dapat menjadi bahan atau bahkan batu loncatan untuk menjadi lebih baik.
Jika memahami suatu masalah itu sebagai loncatan, maka kemunculannya akan membuat kita berpikir keras, introspeksi diri, dan pada gilirannya kan melahirkan inovasi baru untuk berbuat lebih baik lagi. Secara psikologis, kita akan semakin dewasa dalam menghadapi kehidupan. Kian deras masalah yang kita hadapi, semakin dewasalah kita dalam menyikapi hidup ini. Setiap masalah sebenarnya adalah cobaan untuk meningkatkan kualitas diri kita dan kadar kesabaran di dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi, atau sebagai peringatan dari Allah SWT karena jalan yang kita tempuh tidak sesuai dengan apa yang diperintahkanNya. Namun, sayang tidak semua orang bisa memahami hal itu. Banyak yang menganggap masalah yang dihadapinya sebagai kutukan, laknat, dang menganggap hal itu merupakan hal biasa yang tidak harus dipikirkan. Sebagai contoh, limbah pabrik Newmont di teluk Buyat, banjir yang menimpa ibu kota Indonesia dan sekitarnya, gempa bumi, longsor, tsunami, Banjit Lapindo dan lain-lain. Tak jarang yang mencari kambing hitam sebagai pembenaran dari sikap yang salah. Bahkan menjadi frustasi dan merasa bosan dengan kehidupan yang tidak berpihak pada dirinya. Akhirnya menjadi pesimis, putus asa dan berhenti berjuang yang akhirnya menjadi sampah masyarakat.
Padahal setiap detik adalah kehidupan baru yang juga memberikan harapan baru. Semuanya anugrah kepada kita agar kita dapat introspeksi diri, tidak ada kata terlambat untuk memulai yang baik. Sebaliknya, hidup terlalu sayang jika terus berfikir negatif dan menyesal sepanjang hari tanpa mencari penyelesaian dari masalahnya.
Merubah kegagalan menjadi kesuksesan
Kesedihan, kekecewaan, frustasi, rasa bosan, dan kemalangan adalah kata-kata yang bersinonim dengan kegagalan. Berbagai kegagalan memenuhi sudut-sudut kehidupan. Gagal dalam berkarir, studi, menjalin cinta kasih, gagal dalam meraih cita-cita, dan yang lain sebagainya. Semua akrab dengan kehidupan manusia. Menurut Islam, setiap kegagalan adalah musibah, bisa juga berarti cobaan dan ujian (Al-Baqarah: 156). Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang selalu memotifasi diri dari kegagalan, mereka itulah orang yang sabar dan sebagai calon orang-orang yang sukses di masa yang akan datang.
Ketakutan terhadap suatu kegagalan bisa menghancurkan orang yang mempunyai prospek yang baik. Kegagalan sebenarnya bukan merupakan hal yang buruk, yang buruk adalah mereka yang tidak pernah mencobanya sama sekali dan berhenti berjuang dan mudah putus asa.
Sneca pernah berkata: "Pujilah orang-orang yang melakukan hal-hal yang besar kendati pun mereka gagal,". Dan orang yang tidak pernah gagal atau orang yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah orang yang tidak pernah berbuat apapun. Kesuksesan adalah sebuah paket, dan bagian dari paket itu adalah kegagalan. Panadangan bahwa orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal adalah pandangan yang keliru. Orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah berpikir dirinya kalah. Ketika ia gagal, maka ia bangkit kembali. Kemudian belajar dari kesalahan dan bergerak maju menuju inovasi yang lebih baik. Maka tindakan konstruktif adalah lebih baik daripada tindakan yang destruktif.
Elburt Hubbard mengatakan: "Orang yang gagal adalah orang yang melakukan kesalahan tetapi tidak mengambil hikmah dari pengalaman tersebut,". Dan tindakan yang harus dilakukan ketika kegagalan menimpa adalah meyakinkan pada diri bahwa pasti ada jalam keluar untuk menuju sukses kembali. Semua fikiran bersifat magnetis, ketika kita mengatakan "saya kalah" maka fikiran negatif menyerbu ikut meyakinkan, kita memang sudah kalah. Tetapi ketika kita yakin pasti akan ada solusi yang lain, maka pikiran menyerbu membantu memecahkan masalah dan mencari solusinya. Para psikolog mengatakan "Seorang pencandu alkohol sudah ditakdirkan terus kecanduan hingga ia percaya dapat mengalahkan kecanduan,"
Allan Loy Mc Ginnin dalam bukunya Bringging out the Best in People mengatakan "Ketakutan terhadap suatu kegagalan bisa mematahkan semangat seseorang, maka ciptakan kegagalan, karena bukanlah sesuatu yang fatal".
Kegagalan tidak terlepas dari kehidupan, mereka yang lari dari suatu kegagalan adalah mereka yang lari dari kehidupan. Cara terbaik menghadapi kegagalan adalah belajar dari kegagalan itu agar tidak terulang kembali dan meneruskan untuk terus berjuang.
Tidak ada jalan pintas untuk menuju kesuksesan. Kesuksesan akan datang kepada mereka yang berusaha mendapatkannya bukan kepada mereka yang mengharapkannya. Jangan pernah putus asa, karena yang mudah putus asa tidak pernah sukses dan orang sukses tidak pernah putus asa (QS. Yusuf: 87) wallahu a'lamu bisshawab.

Memaknai Konsep “Kegagalan”

Salah satu proses belajar kita ketika kecil adalah belajar berjalan. Mungkin ketika ulang tahun pertama, anda mulai belajar berjalan - kemudian anda pun terjatuh dan anda pun terjatuh berulang kali sampai pada akhirnya anda dapat berjalan dengan lancar dan sampai sekarang anda tidak pernah merasa gagal belajar berjalan dalam kehidupan saat ini.

Saya yakin, anda dapat mengingat sebagai orang dewasa suatu kejadian dimana anda gagal satu atau dua kali kemudian anda menyerah. Jadi apa bedanya dengan ketika anda belajar berjalan?
Jawabannya adalah “ANDA TIDAK MENGENAL KONSEP KEGAGALAN”.
 
Ingatkah anda? Orang tua anda meyakinkan bahwa anda bisa melakukannya jika terus berusaha dan mereka selalu mendampingi anda untuk mendorong anda. Setiap Keberhasilan diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan, yang memompa diri anda untuk lebih berhasil lagi.
 
Seringkali, semua berawal dari suatu kejadian di sekolah dimana guru bertanya, “Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?” dan dengan penuh semangat anda mengangkat tangan bahkan sampai melompat-lompat supaya guru menunjuk anda. Kemudian guru pun menunjuk anda dan anda menjawab dengan keras dan lantang. Tapi kemudian guru anda bilang, “Kamu SALAH, Saya heran melihat kamu”.
Akhirnya benih-benih keraguan pun mulai muncul. Anda merasa malu. Bagi banyak orang, inilah awal terciptanya citra diri yang negatif.

“Masalah adalah harta yang terbalut dengan penderitaan”

Setelah dewasa, akan sangat baik apabila kita belajar untuk memaknai kegagalan dengan positif. Sebuah berlian tidak akan pernah menjadi berlian yang indah apabila tidak melalui proses yang sangat panjang dan menyakitkan. Sebuah kayu tidak akan menjadi kayu yang halus tanpa dipasrah ataupun diamplas terlebih dahulu. Jadi bersyukurlah apabila anda masih memiliki masalah. Karena tidak ada pelaut handal yang dilahirkan di laut yang tenang.

Sangatlah penting untuk mengajarkan konsep memaknai kegagalan ini pada putra dan putri kita. Banyak sekali kejadian yang menimpa mereka karena mereka tidak bisa menerima kegagalan. Salah satu contoh paling gamblang adalah fenomena bunuh diri pada remaja. Sebenarnya hal ini disebabkan karena mereka tidak siap untuk ditolak. Mereka tidak siap untuk gagal. Kita seringkali mengajarkan untuk bersyukur dan berterima kasih ketika kita mendapatkan keberuntungan. Tapi apakah kita pernah mengajarkan untuk bersyukur dalam kesulitan dan kesusahan?

Kegagalan bagaikan penyakit yang pernah kita alami. Coba anda tanya ke semua orang yang ada di dunia ini, apakah ada satu orang pun dari mereka yang tidak pernah sakit? Saya yakin, pasti semua orang pernah merasakan sakit. Begitu juga dengan kegagalan. Semua orang pasti akan mengalami yang namanya kegagalan. Dan sekarang semua tergantung dari kita, apakah kita akan memaknai kegagalan itu sebagai sesuatu yang akan mengasah kita menjadi lebih baik atau sebuah lubang yang sangat dalam yang membuat kita tidak bisa naik  lagi?

Salam Sehat, Sukses dan Bahagia untuk kawan-kawan semua

Memaknai Peristiwa Hidup

“Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every physical pain carries with it the seed of an
equivalent benefit”.
(Ralp Waldo Emerson)

Kalimat bijak diatas mungkin sangat mudah dimengerti. Tetapi ketika mengalami kegagalan maka hanya sedikit individu
yang bisa mengaplikasikan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sama halnya dengan kata bijak yang lain:
"Kegagalan adalah sukses yang tertunda". Benarkah?

Gagal & Sukses

Jika kita mengacu pada kisah kehidupan orang sukes yang kita kenal dan diperkenalkan oleh sejarah maka cenderung
diperoleh kesimpulan yang sama bahwa kegagalan adalah peristiwa potensial yang bersifat netral, ‘hidden potential
events’ yang tidak memiliki makna tertentu kecuali setelah diberi pemaknaan oleh kita: nasib, takdir, siksaan, cobaan,
tantangan atau pelajaran. Apapun makna yang dibubuhkan pada akhirnya akan kembali pada formula bahwa hidup ini
lebih pada memutuskan pilihan dan merasakan konsekuensi.

Berdasarkan hidden potential events tersebut maka bisa dimengerti jika Abraham Lincoln baru mencapai cita-cita
politiknya pada usia 52 tahun; Soichiro Honda yang sampai cacat tangannya gara-gara mendesain piston; atau Werner
Von Braun penemu roket yang menyebut angka kegagalan 65.121 kali. AMROP International, perusahaan pencari
eksekutif senior yang berkantor di 78 negara di dunia termasuk Indonesia, pernah mengeluarkan catatan tentang fluktuasi
emosi pencari kerja dari sejak di-PHK sampai menemukan pekerjaan baru. Dihitung, fluktuasi naik-turun itu terjadi
sebanyak 26 kali dengan asumsi waktu minimal enam bulan.

Pendek kata, gagal dan sukses adalah ritme hidup yang tidak terpisah dari kehidupan semua orang. Lalu apa pembeda
antara perjuangan tiada akhir (unstoppable) yang menghasilkan para "pengubah" dunia dengan perjuangan yang
dikalahkan rasa putus asa karena kegagalan yang barangkali terjadi hanya sepersekian persen?

Menyikapi Kegagalan

Penyikapan individu pada momen di mana kegagalan terjadi dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Membiarkan
Model penyikapan ini adalah menerima kegagalan dengan kualitas yang rendah berupa membiarkan saja semua terjadi.
Sikap ini dihasilkan dari mentalitas yang rendah untuk mendobrak keadaan karena tidak memiliki kemauan yang
dibangkitkan di dalam untuk menemukan penyebab yang rasional. Bisa jadi kemauan itu erat kaitannya dengan level
pengetahuan dan harapan yang dimiliki orang. Karena jawaban rasional tidak ditemukan, maka cara tunggal yang
digunakan untuk memaafkan sikap demikian adalah menempatkan kegagalan dalam wilayah hidup yang tak tersentuh
oleh upaya dirinya dengan meyakini titah takdir atau nasib.

2. Menolak
Model penyikapan kedua adalah menolak kegagalan.Penolakan itu dilakukan dalam bentuk menyalahkan orang lain,
keadaan atau Tuhan sekalipun, karena dirasakan tidak adil memberi perlakuan. Biasanya penolakan itu terjadi akibat
keseimbangan hidup yang kurang mendapat perhatian di tingkat intelektual, emosional atau spritual. Meskipun kegagalan
dapat dilumpuhkan, tetapi akibat penolakan yang dilakukan, keseimbangan antara usaha dan hasil tidak sebanding. Jika
diambil perumpaan maka model hal ini adalah ibarat orang membunuh nyamuk dengan sepucuk pistol.

3. Menerima
Model penyikapan ketiga adalah yang paling ideal yaitu menerima kegagalan dengan kualitas yang tinggi. Di sini
kegagalan adalah materi pembelajaran-diri atau kurikulum pendidikan situasi. Daam hal ini tentu saja bukan berarti
bahwa semakin banyak kegagalan semakin bagus tetapi yang ingin difokuskan adalah bagaimana individu menempatkan
kegagalan sebagai proses yang menyertai realisasi gagasan. Bisa jadi fakta fisik menunjukkan peristiwa yang belum /
tidak berjalan seperti yang diinginkan oleh perencanaan akan tetapi orang seperti Edison atau orang lain yang bermazhab-
hidup sama merebut tanggung jawab untuk mengubah hidup dari cengkraman fakta fisik temporer itu. Seperti dikatakan
Dr. Denis Waitley: "There are two primary choices in life: to accept conditions as they exist, or accept the responsibility for
changing them."

Munculnya penyikapan yang beragam di atas tidak terjadi secara take for granted begitu saja tetapi dibentuk oleh sekian
faktor antara lain:

a. Lingkungan
Termasuk dalam kategori lingkungan adalah keluarga, masyarakat dan bangsa di mana kita menjadi salah satu
komponen yang ikut mempengaruhi dan dipengaruhi. Kualitas model penyikapan lingkungan terhadap persoalan hidup
secara umum tergantung tingkat pendidikan, nilai kebudayaan, atau peradaban yang membentuknya. Orang yang
dibesarkan oleh lingkungan berbeda bagaimana pun punya format pandangan berbeda tentang persoalan hidup.

b. Sistem Struktural
Selain lingkungan, faktor sistem struktural yang mengatur organisasi, lembaga, atau perkumpulan sosial tertentu juga
ikut andil terutama membentuk karakter mentalitas individu dalam menghadapi hidup dan kegagalan pada khususnya.
Mentalitas tinggi akan membentuk kepribadian di mana seseorang menjadi ‘the cause’ dari peristiwa hidup sementara
mentalitas rendah akan membentuk kepribadian sebagai ‘the effect’.

c. Personal
Meskipun tidak bisa dinafikan pengaruh yang dimiliki oleh faktor lingkungan dan sistem struktural, tetapi pengaruh
tersebut hanya bersifat menawarkan dan hanya faktor personal-lah yang menentukan keputusan. Sudah jelas kita
rasakan, tidak semua pengaruh itu murni negatif atau positif sehingga peranan terbesar terdapat pada kemampuan kita
untuk menghidupkan tombol ‘seleksi’ dan ‘pengecualian’ dalam memilih model penyikapan untuk mendukung di antara
yang bekerja untuk merusak atau mandul.

Memaknai Kegagalan

Tidaklah benar jika dikatakan bahwa ketidakmampuan seseorang mengambil manfaat dari hidden potential yang terjadi
dalam suatu peristiwa yang menyebabkan kegagalan semata-mata karena faktor negatif yang diwariskan oleh lingkungan
atau sistem struktural yang ada dalam masyarakat. Justru yang dibutuhkan adalah bagaimana kita menciptakan model
penyikapan ketiga yang dihasilkan dari pemahaman tentang cara kerja hidup dan dunia. Dalam hal memaknai kegagalan,
kesengsaraan, atau peristiwa menyakitkan lainnya, maka langkah-langkah yang kemungkinan besar dapat membantu
adalah:

1. Menciptakan Kondisi

Makna tidak datang sendiri tetapi sebagai hasil yang diciptakan oleh usaha untuk menemukannya, dalam arti menciptakan
kondisi dengan kesadaran bahwa kita sedang menjalani pendidikan situasi untuk mematangkan diri. Kualitas
conditioning akan sebanding dengan benefit yang tersimpan di baliknya. Sebelum Ir. Ciputra bercerita riwayat hidupnya
dari kecil, rasanya semua orang membayangkan betapa enaknya menjadi sosok yang menyandang sebutan maestro
property Indonesia atau Asia Pasifik. Tetapi dengan pengakuan bahwa dirinya adalah manusia yang tidak tahu di mana
seorang ayah dimakamkan oleh penjajah kala itu yang akhirnya membuat Ciputra kecil berusia 12 tahun harus hidup
tanpa bimbingan ayah, barulah kita sadar bahwa balasan yang diterimanya sekarang ini adalah balasan setimpal. Bocah
kecil bernama Ciputra harus jalan kaki sepanjang 7 km karena tujuannya menyelesaikan sekolah dasar. Kata kuncinya
bukan pada kematian seorang ayah di sel penjara penjajah akan tetapi kesadaran bahwa dirinya harus merumuskan
tujuan, visi, dan misi hidup seorang diri. Andaikan situasi serupa dihadapi oleh kita sendiri, belum tentu kita berani buru-
buru membayangkan alangkah enaknya menjadi sosok Ir. Ciputra.

2. Menciptakan Perbedaan

Model penyikapan ketiga yang membedakan model pertama dan kedua pun juga tidak disuguhkan tetapi diciptakan oleh
kualitas pembeda dalam mengembangkan sembilan sumber daya inti di dalam diri yaitu:
Sumber daya material: fisik, raga
Sumber daya intelektual: nalar
Sumber daya emosional: sikap perasaan
Sumber daya spiritual: hati, rohani
Sumber daya mental: daya dobrak
Sumber daya visual: imajinasi
Sumber daya verbal: komunikasi
Sumber daya social: relationship
Sumber daya dukungan eksternal: lingkungan dan sistem struktural
Banyak hal-hal kecil yang dapat membantu memperbaiki model penyikapan tetapi luput untuk dijalankan karena sifat
manusia yang ingin ‘jump to conclusion’ mendapatkan hasil yang besar. Di antaranya adalah kesadaran mendengarkan
musik, olah raga, membaca, doa, meditasi, relaksasi senyuman, tepuk tangan atas keberhasilan orang lain, dan lain-lain.

3. Menggunakan Kemampuan Baru

Hasil akhir dari pembelajaran diri dengan menjalani pendidikan situasi adalah memiliki kemampuan baru, baik
kemampuan hardware skill dan software skill atau makna lain yang anda temukan. Tetapi balasan setimpal dari situasi
yang kita rasakan menyakitkan adalah menggunakan kemampuan tersebut untuk menambah nilai plus, competitive
advantage, diri kita bagi orang lain. Salah seorang yang pernah berhasil menggunakan kemampuan baru itu adalah prof.
Hamka. Mungkin – ini hanya pengandaian – kalau tidak dijebloskan ke penjara, buku tafsir yang menjadi karya fenomenal
Hamka tidak pernah rampung. Kalau tidak pernah bangkrut yang membuatnya hidup menggelandang sampai usia 40
tahun, mungkin karya berseri berjudul “The Chicken Soup for Soul” yang saat ini banyak terpampang di sejumlah toko
buku di dunia tidak akan dihasilkan oleh Mark Victor Hensen.
Tentu bukan penjara atau hidup menggelandang yang membuat kedua sosok di atas merasakan balasan setimpal, tetapi
pembelajaran diri dalam memaknai setiap peristiwa hidup yang terjadi justru menjadi kunci untuk mengembangkan
sumber daya di dalam diri masing-masing dan hasilnya digunakan demi kesejahteraan orang banyak.
Akhir kata, sebaik-baiknya seseorang maka akan sangat baik jika ia dapat belajar dan mengambil hikmah dari setiap
peristiwa hidup guna memberikan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat menemukan makna dari peristiwa
hidup yang anda alami guna menciptakan competitive advantage bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi kesejahteraan
orang banyak.(jp)

Belajar memaknai kegagalan


Sering kali kita selalu dengar ungkapan kegagalan adalah sukses yang tertunda. Nah saya bukan orang ahli bahasa yang akan membedah dari segi ini dan itu, bukan pula seorang motivator yang bisa menciptakan rumus-rumus untuk hampir setiap kata kerja. Saya akan memaknai sendiri, bahwa ketika dikatakan tertunda, maka yang namanya kegagalan itu bukan hasil akhir, karena setelah gagal akan ada proses untuk mencapi kesuksesan.
Lalu sukses hasil akhir dong ? Ya kalau dilihat dari kata-kata diatas, sukses bukan hasil akhir. Karena sukses bisa jadi kegagalan kembali, kalau diteruskan. Nah kalau tidak diteruskan ? Ya tidak mungkin, ketika seseorang menganggap dirinya sukses, apakah dia akan berhenti dititik itu, berarti dia gagal untuk setidaknya mempertahankan kesuksesannya, kalau diteruskan bisa jadi dia akan menempuh kegagalan.
Jadi bagimana ? Tidak ada, mau apa ? Tidak ada yang bisa dikerjakan, sukses dan gagal itu hanya sebutan atau mungkin parameter terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan. Kalau sudah dibilang gagal, usaha lagi agar sukses. Lalu kalau sudah sukses setidaknya dipertahankan agar pada perjalanannya tidak gagal dikemudian hari. Jadi yang namanya sukses itu juga bukan akhir sebuah hasil, sukses bukan hasil. Lalu hasilnya yang mana ? Proses ? Terserah, suka-suka saja.
Terkadang kita terlalu sibuk dengan segala rumus ini dan itu, sampai lupa kalau es teh manis di siang hari yang panas itu menyegarkan, kadang kita juga terlalu takjub akan kesegaran es teh manis, sampai lupa membayar.
Yah, hidup memang tak seindah mulutnya Mario Teguh, itu saya percaya dan saya amini. Tapi bukan berarti setelah tidak percaya motivator kita tidak punya motiviasi, tidak. Naif, motivasi itu banyak kok, silahkan dirumuskan sendiri, silahkan dipilah-pilah sendiri, toh kita lebih tahu dengan hidup kita. Jadi ada disisi yang mana anda sekarang, sukses atau gagal ?

Jumat, 16 Mei 2014

Program Remedial, Pengayaan dan Akselerasi

Dalam kaitannya dengan belajar tuntas (mastery learning) maka yang perlu diingat oleh seorang guru salah satunya adalah setiap peserta didik itu memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda dalam mencapai suatu  kompetensi tertentu.  Sehingga dalam proses pembelajaran sehari-hari akan terjadi kecepatan belajar yang berbeda antara peserta didik yang pandai, peserta didik  yang biasa bahkan yang lambat atau lemah.
Dalam pembelajaran tuntas maka menekankan pada ketuntasan belajar secara individual meskipun proses pembelajaran dilakukan secara klasikal.  Untuk mencapai pembelajaran tuntas akan mengacu kepada program perbaikan ( remedial ), pengayaan dan akselerasi.
1. Remedial ( Perbaikan )
Remedial atau perbaikan diberikan kepada peserta didik yang belum tuntas belajar atau belum mencapai SKBM ( Standar Ketuntasan Belajar Minimal ) setelah mengikuti tes kompetensi dasar tertentu, ujian blok, atau ujian semester. Program remedial ini dilakukan dua kali, sehingga bila peserta didik sudah melaksanakan remedial atau perbaikan sebanyak dua kali namun nilainya belum mencapai SKBM maka penanganannya harus melibatkan orang tua peserta didik dengan melibatkan pihak Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui kemungkinan sebab lain dari kelambanan peserta didik tersebut.
Tugas yang berat bagi guru dalam mencapai belajar tuntas ini adalah bagaimana seorang guru dapat menanganai peserta didik yang lemah atau lamban dalam mencapai kompetensi belajar tertentu, maka ada dua cara yang dilakukan ;
a. Guru memberi  bimbingan secara khusus, individual bagi peserta didik yang lamban dalam mencapai kompetensi dasar tertentu.  Cara ini sederhana sebab guru berperan juga sebagai  fasilitator.  Contoh menanyakan kepada peserta didik yang mana tempat kesulitannnya dan langsung dijelaskan oleh guru, bisa di dalam kelas atau luar kelas sampai benar-benar dimengerti dan indikatornya bisa mengerjakan soal atau tugas dari guru dengan benar.
b. Dengan perlakuan ( treatment) khusus yaitu penyederhanaan dari pembelajaran regular.  Contoh guru dapat menyederhanakan sisi materi  ajar agar mudah dimengerti oleh peserta didik yang lamban tersebut.  Penyampaian yang sederhana dari guru dengan melengkapai materi ajar dengan gambar, grafik, skema, dan lainnya.  Penyederhanaan soal yang diujikan sehingga lebih mudah dimengerti olah peserta didik yang lamban belajar.
2. Pengayaan
Dalam pembelajaran tuntas maka akan muncul peserta didik yang memiliki kecepatan lebih dalam mencapai kompetensi dasar tertentu, untuk peserta didik yang seperti ini tidak boleh diabaikan tetapi harus mendapat perlakuaan khusus dalam bentuk tambahan pengetahuan dan keterampilan melalui program pengayaan.  Caranya adalah memberikan materi tambahan atau diskusi tentang materi ajar berikutnya atau kompetensi dasar berikutnya sesama teman sekelompoknnya untuk memperluas wawasannya.  Atau sebagai tutor sebaya terhadap temannya yang belum tuntas belajarnya.  Cara lainnya adalah memberikan tugas oleh guru yang menyangkut kompetensi selanjutnya sebagai materi ajar tambahan.  Dapat juga dilakukan dengan mengerjakan soal latihan yang bersifat pengayaan.
3. Akselerasi (Percepatan belajar)
Implikasi lain dari mastery learning (belajar tuntas ) adalah kemungkinan adanya peserta didik yang memiliki kecerdaqsan luar biasa dengan nilai di atas 95.  Untuk mereka ini tidak diadakan pengayaan tetapi perlakuan khusus yaitu percepatan belajar secara alami bukan di kelas akselerasi.  Mereka dapat langsung dipersilahkan untuk  mempelajari kompetensi dasar berikutnya yang sudah diprogramkan dalam satu semester atau satu tahun sehingga nantinya peserta didik tersebut dapat menyelesaikan belajarnya lebih cepat dari teman-temannya.  Untuk mendukung pelaksanaan perscepatan belajar ini maka pembelajaran perlu dikemas lebih rinci misalnya dengan menggunakan modul – modul pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat belajar mandiri, paket atau kegiatan-kegiatan belajar sesuai kompetensi dasar yang dilengkapi dengan soal-soal latihan, sehingga program kaselerasi ini mudah terlaksana.
Format Remedial download di sini
Format Pengayaan download di sini

Empat Kompetensi Guru Professional

            Seiring dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”
Bahwa guru yang profesional itu memiliki  empat kompetensi atau standar kemampuan yang meliputi kompetensi Kepribadian, Pedagogik, Profesional, dan Sosial.  Kompetensi guru adalah kebulatan pengetahuan , keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.  Sebagai agen pembelajaran maka guru dituntut untuk kreatif dalam mnenyiapkan metode dan strategi yang cocok untuk kondisi anak didiknya, memilih dan menetukan sebuah metode pembelajaran yang sesuai dengan indikator pembahasan.  Dengan sertifikasi dan predikat guru profesional yang disandangnya, maka guru harus introspeksi diri apakah saya sudah mengajar sesuai dengan cara-cara seorang guru profesional.  Sebab disadarai atau tidak banyak diantara kita para pendidik belum bisa menjadi guru yang profesional sebagai mana yang diharapkan dengan adanya sertifikasi guru sampai saat ini.       
A. Kompetensi kepribadian
Adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.  Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :
1. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
2. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan  kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.
3. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
B.Kompetensi Pedagogik
Kemampuan pemahaman terhadappeserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.  Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :
1. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
2. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan  untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
3. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan  evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan  berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.
C. Kompetensi Profesional
Adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulummata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.  Sub kompetensi dalam kompetensi Profesional adalah :
1. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang meliputi  memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antar nmata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menguasai struktur dan metode keilmuan yang meliputi menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk membperdalam pengetahuandan materi bidang studi.
D.Kompetensi Sosial
adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar
Kode etik Guru dan Dosen
                Kode etik adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan kehidupan sehari-hari.
Isi Pokok Kode Etik Guru dan Dosen :
1. Kewajiban beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjunjung tinggi hukum dan peraturan yang berlaku
3. Mematuhi norma dan etika susila
4.Menghormati kebebasan akademik
5. Melaksanakan tridarma perguruan tinggi
6. Menghormati kebebasan mimbar akademik
7. Mengukuti perkembangan ilmu
8. Mengembangkan sikap obyektif dan universal
9. Mengharagai hasil karya orang lain
10. Menciptakan kehidupan sekolah/kampus yang kondusif
11. Mengutamakan tugas dari kepentingan lain
12. Pelanggaran terhadap kode etik guru dan dosen dapat dikenai sanksi  akademik, administrasi dan moral.
 
 
salam  pendidikan...shaling